Sebatang Rokok Sebelum Menguasai Dunia

Aku menyalakan sebatang rokok bukan karena dunia memintanya. Dunia tidak pernah meminta apa pun dengan sopan. Ia hanya menekan, menuntut, lalu diam seolah semua itu wajar.
Sebatang rokok ini bukan pelarian. Ia jeda. Ia garis tipis antara niat dan tindakan. Asapnya naik tanpa tujuan, seperti manusia yang terlalu sering pura pura tahu arah. Aku menghisapnya pelan, bukan untuk tenang, tapi untuk mengingat satu hal sederhana. Tidak ada makna bawaan. Semua makna kita pasang sendiri.
Mereka bilang rokok membunuh waktu. Aku justru melihat waktu yang berhenti sebentar. Di sela tarikan ini, ambisi kehilangan suaranya. Dunia tidak lagi tampak besar. Kekuasaan terasa seperti mainan yang diletakkan terlalu tinggi oleh anak kecil.
Aku tidak butuh alasan suci untuk ingin menguasai dunia. Aku juga tidak butuh penderitaan agar keinginanku sah. Setelah rokok ini habis, aku bisa memilih apa saja. Bekerja, menghancurkan, membangun, atau tertawa melihat semuanya runtuh dengan sendirinya.
Sebatang rokok ini tidak membuatku hebat. Tidak membuatku kuat. Ia hanya saksi kecil bahwa sebelum semua rencana besar, ada manusia yang berdiri, bernapas, dan sadar bahwa dunia ini kosong. Dan justru karena kosong, aku bebas mengisinya dengan apa pun.
Rokoknya habis. Abunya jatuh. Dunia masih sama. Aku melangkah. Itu saja sudah cukup.
